Kanker-Kanker Yang Berhubungan
Dengan HIV SARKOMA KAPOSI
Sarkoma Kaposi (Kaposi’s Sarkoma /KS)
merupakan neoplasma tersering pada pasien
dengan infeksi HIV. Epidemiologi, Etiologi dan Faktor Risiko
Walaupun semua jenis pasien AIDS
ditemukan menderita sarkoma Kaposi (baik
heteroseksual,homoseksual, dan IVDU),
insidensi terbesar terdapat pada laki-laki
homoseksual dengan HIV positif. KS merupakan neoplasma multifokal, yang
mampu terjadi pada banyak tempat secara
serempak. Dicurigai bahwa KS-AIDS bukan
merupakan akibat sekunder dari HIV, tetapi
sebenarnya, merupakan penyakit menular
seksual yang tersendiri. Sitomegalovirus merupakan suatu virus yang telah lama
dicurigai sebagai penyebab KS. Status
imunodefisiensi lainnya seperti imunosupresi
yang terinduksi secara iatrogenis, seperti
yang terlihat pada pasien transplantasi ginjal,
merupakan suatu kemungkinan terjadinya KS. Pencegahan, Penapisan dan Deteksi
Seperti halnya pencegahan penyakit HIV,
pencegahan KS harus meliputi penggunaan
penghalang seperti kondom dan menghindari
cairan tubuh termasuk darah, semen dan
sekret vagina yang infeksius. Oleh karena pasien yang menderita infeksi HIV memiliki
risiko yang tinggi untuk terjadinya KS-AIDS,
semua pasien HIV harus menjalani
pemeriksaan penapisan, secara rutin untuk
mencari tanda-tanda dan gejala KS. Klasifikasi
KS-AIDS (juga disebut KS epidemis) biasanya
ditandai dengan lesi multifokal yang
menyebar pada tahap permulaan penyakit.
Penyakit ini memiliki rentang virulensi yang
besar pada pasien HIV, mulai dari penyakit stabil yang terbatas sampai penyakit yang
parah dengan
pembentukan lesi-lesi baru yang sangat
cepat dan terus-menerus. KS-AIDS biasanya
diklasifikasikan menurut tempat lesi. KS
noduler ditandai dengan lesi nodular subkutan yang bervariasi ukurannya dari
diameter beberapa milimeter sampai dengan
beberapa sentimeter.
KS limfadenopati terutama menyerang
kelenjar getah bening perifer. Lesi KS oral
dapat menyebabkan perdarahan pada tempat lesi, pergeseran gigi dan rasa nyeri.
KS viseral pada umumnya menyerang paru
dan saluran pencernaan. Gambaran Klinis
Kebanyakan pasien dengan lesi kulit
menunjukkan lesi datar atau timbul plak
yang bervariasi ukurannya mulai beberapa
milimeter sampai beberapa sentimeter.
Warna yang timbul bervariasi dari biro keunguan sampai merah kecoklatan.
Walaupun seringkali terdapat kelenjar getah
bening yang terkena, sulit untuk
membedakannya dengan limfadenopati yang
berhubungan dengan HIV. Gambaran klinis
lainnya meliputi: diare, kehilangan darah, penurunan berat badan, batuk, sesak napas,
dan demam. Diagnosis dan Penentuan Stadium
KS-AIDS biasanya didiagnosis dengan
pemeriksaan biopsi lesi kulit atau membran
mukosa. KS-AIDS yang menyerang paru-paru atau saluran pencernaan biasanya
didiagnosis dengan pemeriksaan endoskopi.
Hal-hal yang penting untuk diperhatikan
adalah: keberadaan tumor, status sistem
imun dan ada atau tidak adanya penyakit lain
yang berhubungan dengan HIV. Metastasis
Perjalanan penyakit yang cepat dengan
harapan hidup pasien yang singkat terjadi
pada pasien-pasien dengan infeksi
oportunistik, gejala sistemik dan jumlah T4
helper yang rendah. Hal ini berhubungan dengan penyakit yang agresif dan
menyeluruh yang melibatkan paru dan organ
dalam. Modalitas Penanganan
Tidak ada terapi kuratif untuk KS-AIDS.
Walaupun demikian, KS-AIDS jarang menjadi
penyakit yang mengancam jiwa. Kebanyakan
pasien dengan KS-AIDS meninggal akibat
infeksi oportunistik yang berhubungan dengan defisiensi imun akibat infeksi HIV.
Oleh karena itu, terapi KS-AIDS biasanya
ditujukan untuk memulihkan gejala dan
menghilangkan atau mengurangi lesi yang
mengganggu secara kosmetis. Terapi lokal
berupa eksisi operatif, desikasi elektrik, dan terapi radiasi. Biasanya KS menunjukkan respons yang baik
terhadap radiasi dan bisa didapatkan efek
paliatif yang baik pula. Respons yang sangat
baik didapat dengan terapi KS kutaneus
menggunakan terapi whole-body electron
beam, terapi sinar-X fraksinasi fokal, atau terapi dengan dosis
tunggal. Terapi radiasi terutama berguna
untuk mendapatkan respons lokal yang
tepat. Kemoterapi sangat tepat diberikan pada
pasien yang memiliki penyakit yang masih
terbatas dan dengan fungsi imun yang relatif
masih baik. Kemoterapi dengan agens
tunggal dapat memberikan kemajuan dalam
segi kosmetis dan simptomatis dengan toksisitas yang rendah atau gangguan imun
yang berarti. Regimen agens kemoterapi
tunggal meliputi vinblastin, bleomisin, VP-16,
atau doksorubisin. Regimen kombinasi
meliputi vinblastin dan vinkristin;vinblastin
dan bleomisin; doksorubisin, bleomisin dan vinblastin; doksorubisin, bleomisin dan
vinkristin; atau vinblastin, vincristin, dan
metotreksat. Prognosis
Walaupun belum ada terapi kuratif untuk KS-
AIDS, KS biasanya tidak mengancam jiwa.
Kebanyakan pasien KS-AIDS meninggal
akibat infeksi oportunistik sebagai akibat
imunodefisiensi yang terjadi sekunder setelah infeksi HIV.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
<3